<$BlogRSDURL$>

Wonk Dermayu

Blog ini launcing terinspirasi atas dasar untuk mempererat persaudaraan sesama WONK DERMAYU, saya berharap Blog ini menjadi salah satu sarana untuk saling sharing Ilmu Pengetahuan dan Pengalaman sesama Wonk Dermayu, mengingat Indramayu adalah salah satu kabupaten terbesar di Jawa Barat, memiliki luas wilayah 204.011 Hektar, 24 Kecamatan, 8 Kelurahan dan 302 Desa. Oleh karena itu saya mengajak Wonk-Wonk Dermayu Saling Silaturohim Sekedar untuk memper erat Persaudaraan.

Saturday, October 15, 2005

SEJARAH INDRAMAYU 

Putra Tumenggung Gagak Singalodra dari Bengelen Jawa Tengah bernama Raden Wiralodra yang mempunyai garis keturunan Majapahit dan Pajajaran, dalam tapa baratanya di kaki Gunung Sumbing mendapat wangsit "Hai Wiralodra apabila engkau ingin berbahagia berketurunan di kemudian hari, pergilah kearah matahari terbenam dan carilah lembah Sungai Cimanuk. Manakala telah disana, berhentilah dan tebanglah belukar secukupnya untuk mendirikan pedukuhan dan menetaplah disana. Kelak tempat itu akan menjadi subur dan makmur serta tujuh turunanmu akan memerintah disana.

Raden Wiralodra ditemani Ki Tinggil dan berbekal senjata Cakra Undaksana. Tokoh-tokoh lain dengan pendiri pedukuhan dimaksud adalah Nyi Endang Darma yang cantik dan sakti, Aria Kemuning putra Ki Gede Lurah Agung yang diangkat putra oleh Putri Ong Tien istri Sunan Gunung Jati. Ki Buyut Sidum / Kidang Pananjung seorang pahlawan Panakawan Sri Baduga dari Pajajaran, Pangeran Guru, seorang pangeran dari Palembang yang mengajarkan Kanuragan dengan 24 muridnya. Pedukuhan tersebut berkembang dan diberi nama "Darma Ayu" oleh Raden Wiralodra yang diambil dari nama seorang wanita yang dikagumi karena kecantikan dan kesaktiannya "Nyi Endang Darma", serta dapat diartikan "Kewajiaban Yang Utama" atau "Tugas Suci". Pedukuhan Cimanuk yang diberi nama "Darma Ayu" yang kemudian berubah menjadi "Indramayu", setelah terbebas dari kekuasaan Pajajaran pada tahun 1527, diproklamirkan berdirinya oleh Raden Wiralodra pada hari Jum'at Kliwon tanggal 1 Muharram 934H atau 1 Sura 1449 dan jatuh pada tanggal 7 Oktober 1527. Titimangsa tersebut resmi sebagai Hari Jadi Indramayu.

Revolusi Super Motivasi 

REFORMASI pendidikan sedang bergulir di Indramayu. Kabupaten penghasil beras di pantai utara Jawa Barat itu bertekad menjadi penyuplai tetap mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). "Tiap tahun, Indramayu harus mengirim sebanyak mungkin siswanya ke ITB," begitu tekad Bupati Indramayu, Irianto M.S. Syaifuddin, yang biasa disapa Yance.

Saat ini, 30 siswa dari berbagai sekolah menengah umum (SMU) di Indramayu sedang digembleng di Wisma Pelajar, Jalan Setrasari VI, Bandung. Sejak pertengahan Juni lalu hingga medio Juli mendatang, mereka ditempa untuk bersaing memperebutkan bangku ITB dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru 2004.

Yance berharap, kelak mereka jadi insinyur atau sarjana di bidang lain yang andal dalam ilmunya masing-masing. Tekad pengusaha konstruksi yang pernah menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah Indramayu itu dalam memajukan pendidikan memang sangat besar.

Beberapa bulan setelah terpilih jadi bupati, pada tahun 2000, Yance bertandang ke ITB. Di sana ia mengecek jumlah mahasiswa asal Indramayu. Hasilnya mencengangkan: tak seorang pun. Yance lalu menemui para dosen senior ITB, menyampaikan gagasannya.

Walhasil, Yance memboyong Tengku Abdullah Sani dan Iwan Setiawan, dua dosen teknik geologi ITB, ke Indramayu. Keduanya diserahi tugas menggarap program bertajuk "Super Motivasi Prestasi", untuk menggenjot nilai akademik para siswa SMU Indramayu.

Yance ingin dunia pendidikan Indramayu dirombak total. Ia prihatin karena saat itu Indramayu menempati posisi terakhir dalam persentase kelulusan siswa SMU dari 24 kabupaten di Jawa Barat. "Indramayu tak hanya perlu reformasi pendidikan, tapi revolusi pendidikan!" kata Yance.

Bupati berusia 57 tahun ini berharap, para siswa Indramayu bisa diterima di perguruan tinggi bagus. Ia menawarkan iming-iming menarik: yang diterima di ITB akan diberi beasiswa Rp 7,5 juta setahun. Yang masuk perguruan tinggi negeri lainnya akan diberi Rp 2,5 juta per tahun.

Iwan Setiawan yang lama berkecimpung di Technopreneur & Edutainment Center, lembaga yang membidangi konsultasi pendidikan di Bandung, dipercaya sebagai project officer program Super Motivasi Prestasi. Mengawali proyeknya, Iwan Setiawan meneliti karakter masyarakat Indramayu.

"Siswa Indramayu tidak bodoh, tapi ada masalah yang menghadang," kata Iwan. Kemiskinan dianggap sebagai penghambat utama. "Ada rasa minder ketika bersaing dengan para pelajar dari kota besar," kata Iwan. Maka dirancanglah program bimbingan guru dan siswa. "Kami melakukan terobosan konsep mengajar di kelas," tutur Iwan.

Sabtu malam, Iwan dan timnya berkeliling ke sejumlah SMU, menggelar "coffee night". "Siswa dan guru berkumpul dalam acara santai," kata Iwan. Diskusi sambil minum kopi jadi acara baru siswa dan guru di Indramayu. Banyak persoalan terungkap dalam diskusi, kemudian dicarikan solusinya.

Iwan lalu menjaring 300 siswa pilihan dari sekitar 1.000 pendaftar. Seleksi pertama menguji kemampuan dasar. Seleksi diteruskan hingga tinggal 30 siswa terbaik. Mereka inilah yang kemudian digembleng selama sebulan di Wisma Pelajar milik Technopreneur & Edutainment Center. Biayanya, Rp 8,5 juta per siswa.

Dari Senin hingga Kamis, siswa dijejali materi pelajaran. Jumat dan Sabtu menjalani evaluasi alias ulangan. Hasilnya lumayan sukses. Dari 30 siswa yang terseleksi pada tahun pertama, dua anak berhasil masuk ITB. Mereka diterima di fakultas teknik pertambangan dan fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam. Tujuh lainnya masuk Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, dan Universitas Diponegoro (Undip), Semarang.

Peringkat hasil ujian akhir nasional (UAN) Indramayu melompat dari urutan ke-24 ke peringkat 17. Tahun kedua hasilnya lebih bagus. Jumlah siswa yang masuk perguruan tinggi negeri naik jadi 50%. "Sembilan anak masuk ITB, sisanya masuk UI, Unpad, dan Undip," kata Iwan. Peringkat hasil UAN terus naik, dari peringkat ke-17 ke urutan 11.

Tahun lalu, Iwan mulai memperkenalkan sistem audiovisual dalam mengajar. Pelajaran disampaikan dengan nuansa hiburan. Papan tulis diganti dengan overhead projector. Pelajaran diberikan lewat pemaparan cerita. Pelajaran fisika diilustrasikan dengan komik. "Siswa lebih cepat menangkap," kata Iwan.

Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Indramayu menyiapkan Rp 400 juta untuk program Super Motivasi Prestasi. Khusus bagi siswa yang masuk fakultas kedokteran, Pemerintah Indramayu menjanjikan beasiswa Rp 10 juta per tahun. SMU yang paling banyak memasok siswanya ke perguruan tinggi negeri juga akan dihadiahi Rp 10 juta.

Tak ayal, 21 SMU di Indramayu berlomba-lomba mendaftarkan siswanya. Bupati Yance tak mewajibkan para mahasiswa kembali ke Indramayu setelah lulus. Juga tak ada keharusan mengembalikan biaya kuliah. "Yang penting mereka mengharumkan Indramayu," ujar Yance.

Toh, para siswa yang tengah digembleng itu bertekad membangun daerahnya. "Saya dibiayai masyarakat Indramayu. Kalau bisa kuliah di ITB, saya akan pulang kampung setelah lulus," kata Elviera, siswi SMA Negeri 1 Sindang. Juara kedua siswa teladan se-Jawa Barat tahun 2003 itu berharap bisa masuk Jurusan Teknik Kimia ITB.

Edi Junedi, 18 tahun, siswa SMAN I Krangkeng, punya tekad yang sama. Ia bersyukur bisa masuk program Super Motivasi Prestasi. "Kalau tidak, saya mungkin tak bisa kuliah," kata anak pertama dari tiga bersaudara itu. Ayahnya, yang menjadi sopir kontrak di proyek Pertamina Balongan, mengaku tak sanggup membiayai kuliah. Edi tiap tahun mendapat peringkat pertama di kelasnya. Ia berharap bisa diterima di Teknik Geologi ITB.

Bupati Yance tersenyum puas. Untuk menjaga kelangsungan program pendidikan gagasannya itu, ia bertekad memayunginya dengan peraturan daerah. Rancangannya sedang dibuat. Kalau tak terpilih lagi, Yance ingin bupati baru tetap meneruskannya.

Yance boleh dibilang bukan bupati aji mumpung. Meski masa jabatannya terbatas, ia bertekad meletakkan dasar-dasar kebijakan yang berkelanjutan untuk membangun daerahnya.

Karena perhatiannya pada bidang pendidikan, Maret lalu ia diberi penghargaan oleh Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Yance ditetapkan sebagai "Bupati Terbaik Pemerhati dan Pejuang Anak Bangsa Melalui Pendidikan". PGRI mencatat, sejak menjabat, Yance sangat memperhatikan nasib guru.

Prestasi Yance bukan hanya di bidang pendidikan. Sektor lain tetap mendapat perhatian serius. Misalnya di bidang ekonomi. Konsepnya di bidang ekonomi berbuah Penghargaan Ketahanan Pangan Nasional dari Presiden Megawati Soekarnoputri, pada 2002.

Karena prestasinya itu, Yance diundang berceramah di University of Columbia, New York, Amerika Serikat, Desember tahun lalu. Di hadapan sivitas akademika dan para pejabat Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Yance diminta membeberkan konsep "Yancenomic" yang digulirkannya untuk mempertahankan status Indramayu sebagai lumbung padi nasional.

Sebelum menjabat sebagai bupati, Yance pernah menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Indramayu. Pada pemilihan Bupati Indramayu, 29 November 2000, Yance dicalonkan Fraksi Golkar berpasangan dengan Dedi Wahidi dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, sebagai calon wakil bupati. Saat itu, Yance memperoleh 25 suara, mengalahkan calon dari Fraksi PDI Perjuangan.

Pada pemilihan Gubernur Jawa Barat tahun lalu, Yance sempat dibujuk para pendukungnya untuk maju sebagai calon gubernur. Tapi ia lebih memilih tetap memimpin Indramayu. Akhir tahun ini, Yance kemungkinan besar tampil kembali sebagai calon bupati untuk masa jabatan lima tahun ke depan.

Endang Sukendar, Wisnu Wage Pamungkas dan Ida Farida (Bandung)
[Pendidikan, GATRA, Edisi 34 Beredar Jumat 2 Juli 2004]


Archives
Links Situs Pribadi
Links
Buku Tamu



Form Pengisian Buku Tamu
Nama
Email u
URI Kamu
Pesan

This page is powered by Blogger. Isn't yours?